Kau Hanya Miliki Peluknya, Bukan Hatinya
Apa yang lebih menyakitkan
dari mencintai namun tidak bisa memiliki?
Saat kita memiliki, namun nyatanya tak pernah dicintai.
Aku berani bertaruh, itu adalah hal yang lebih menyakitkan. Kau bisa
memeluknya, merengkuh tubuhnya sesukamu, memiliki raganya. Tapi hatinya?
Hatinya tetap bukan untukmu.
Kau
tak pernah sadar, sudah lama ia tak lagi ingin tinggal. Ia hanya sedang
menyiapkan luka di dalam rayuan, ia sedang mencari kesempatan yang tepat, agar
kau tak sakit terlalu dalam.
Perlahan
semua mulai berubah, mesranya mulai pudar. Ia memperlakukanmu sesuka hatinya,
karea ia tahu, kau tak akan meninggalkanya. Kau pun masih juga tidak menyadari,
kau masih saja memperlakukanya seperti biasa,kau turuti pintanya untuk mempercayai
bahwa ia tak akan pernah menyakiti. Kamu menganggap cinta harus sepenuh hati
dan percaya tanpa sedikitpun ragu.
Ketahuilah,semua
hanya perkara waktu, akan tiba saat ia lelah berpura-pura dan menutupi bahwa
ada orang lain yang ia ingini. Saat kau begitu dalam merindukanya. Tetapi dia
sibuk menahan rindu yang terlalu bergejolak,rindu yang bukan untukmu.
Dan
kini kau masih tak percaya, kau masih saja berpikir, bagaimana mungkin sesuatu
yang begitu baik, menyimpan rahasia yang begitu menyakitkan?. Nyatanya kau
bukan yang ia inginkan, kau haya dijadikan persinggahah, agar ia tak kesepian,
atau bisa jadi ia bertahan hanya karea kasian. Bukalah matamu, dia tidak pernah
berjuang, sebesar pengorbananmu kepadanya. Kau tak harusnya merasakan sengsara.
Jika memang waktunya tiba kau mengetahui segalanya, menangislah sebisamu
menangis, berteriaklah semaumu, karena aku tahu,itu adalah hal yang begitu
menyakitkan. Aku hanya mengingatkan, jangan terlalu lama tenggelam. Karena ada
hidup yang perlu dilanjutkan
September 24, 2015
Amelia P. S.
0 komentar:
Posting Komentar